PEMBANGUNAN ”ONE BELT ONE ROUD (OBOR)” OLEH REALISME  TIONGKOK YANG MEMPENGARUHI PEREKONOMIAN NEGARA KAWASAN ASEAN
Muhammad Ghufron
Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,
Jl. Brawijaya, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

Abstraksi
Tulisan ini berisi tentang rencana Tiogkok dalam membangun “One Belt, One Road (OBOR)” dimana Tiongkok dalam pembangunan OBOR akan menggandeng negara-negara yang di lewati jalur ini seperti Asia Timur, Asia Barat, Asia Selatan, Afrika, Eropa Timur dan tidak terlepas pula Asia Tenggara. Rancangan ini sangan penting di pelajari melalui beberapa prespektif ilmiah dikarenakan rancangan OBOR ini mencakup wilayah yang luas sehingga kawasan yang di lewati harus benar-benar bisa memanfaatkan peluang ini dan bukan malah memilih langkah yang salah dan malah mendapatkan kerugian dari rancangan Tiongkok ini. Tentunya ASEAN yang di lalui jalur ini juga akan menelaah apakah ASEAN di untungkan dari segi ekonomi atau malah dirugikan. Melihat dari sudut pandang Kapitalis yang perlahan-lahan menjadi identitas dari Tiongkok dalam mengambil keuntungan khususnya dalam bidang ekonomi dari negara-negara yang ikut bekerjasama dalam proyek ini.
Kata Kunci : Tiongkok, OBOR, ASEAN, Ekonomi, Realisme
Pendahuluan
Perkembangan Cina sejak reformasi pembukaan yang dipromosikan, terutama pada awal tahun 1980-an oleh Deng Xiaoping, telah mengubah bangsa dari negara miskin menjadi ekonomi terkuat kedua di dunia. Tetapi hari ini kepemimpinan Cina menghadapi transisi yang sulit dari ekonomi berbasis ekspor yang pada dasarnya berdasarkan konsumsi domestik dan inovasi. Dalam konteks ini Tiongkok mengadopsi proyek One Belt One Road (OBOR), juga menamai “Jalan Sutra Baru”, inisiatif yang dipimpin Tiongkok yang bertujuan untuk memperluas dan memperdalam integrasinya ke dalam sistem ekonomi dunia, memperkuat kerjasama dengan negara-negara di Asia, Eropa, Afrika dan seluruh dunia melalui peningkatan konektivitas dalam hal infrastruktur, pertukaran perdagangan dan interaksi antar-orang. OBOR adalah proyek ambisius yang melaluinya Cina bermaksud untuk membentuk struktur tatanan ekonomi internasional dan mengkonfirmasi posisinya sebagai aktor global. (Picciau, 2016)
One Belt, One Road (OBOR) menghubungkan bisnis negara-negara yang dilaluinya dengan biaya yang berkurang. Hal ini merupakan prinsip dasar ekonom bahwa mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang sedikit. Dengan di bangunnya OBOR ini negara ASEAN tidak akan mengeluarkan modal yang besar dalam pengembangan ekonominya kedepan terlebih lagi sekaran ini Asia yang semakin terintegrasi. Hal ini merupakan keinginan alamiah dari ekonomi utuk mendapatkan hari esok yang lebih cerah.
Keuntungan OBOR sangat jelas. Dalam jangka panjang, ia menjanjikan pandangan yang cerah: konektivitas terjangkau yang akan mengarah pada kerja sama dan inovasi ekonomi. Dalam jangka pendek, investasi infrastruktur akan segera merangsang pertumbuhan global. Ini memberi peluang emas bagi ASEAN dan Tiongkok untuk bekerja sama dan mendorong prakarsa One-Belt-One-Road (OBOR) di kawasan; merangsang pemerintah, organisasi multilateral dan sektor swasta untuk menggabungkan kekuatan untuk membina kerja sama internasional dan berbagi kemajuan ekonomi.
Kesempatan yang baik bagi ASEAN dan Tiongkok ini untuk bekerja sama menggunakan kemampuan komplementer. Singapura, misalnya, dapat menawarkan kemampuan dalam manajemen proyek, teknik bandara, dan manajemen air, sementara Tiongkok memiliki pengalaman dan keahlian dalam teknik kereta api. Kerja sama semacam itu dapat menjadi dasar persahabatan jangka panjang antara ASEAN, Cina, dan negara-negara Asia lainnya. (Jetin, 2017)
Realisme Tiongkok
            Perspektif Realisme merupakan salah satu pendekatan tradisional yang memusatkan konseptualisasi perekonomian internasional kepada negara. Dengan memiliki kesamaan sudut pandang dengan kelompok liberalis, kelompok realis pada dasarnya membahas apa ancaman yang akan di dapat dalam bidang ekonomi yang dihadapi oleh negara dan bagaimana menjaga keamanan negara dalam menghadapi peningkatan peekonomian Tiongkok yang cukup pesat. Dalam hal meningkatkan perekonomiannya Tiongkok rela melakukan segala hal untuk mendapatkan kepentingan nasional Tiongkok. Perspektif Realis dari kepentingan nasional didefinisikan dengan ukuran power, karena dunia internasional berada dalam sebuah “Hobbesian state” dimana semua anggotanya haus akan kekuatan. Kepentingan nasional harus bisa mengalahkan kepentingan kelompok, golongan, maupun individu untuk kepentingan masyarakat luas. Kepentingan nasional juga bersifat jangka panjang maupun pendek, artinya terkadang kebutuhan jangka panjang dapat mengalahkan kebutuhan jangka pendek maupun sebaliknya.(Kurniawan, 2016). Dari pengertian dia atas kita bisa pahami  bahwa pada saat ini Tiongkok ingin mendapatkan kekuasaan yang lebih bahkan ingin mendapatkn kekuasaan tertinggi yaitu menjadi negara super power pengganti Amerika Serikat.
Analisis
Dirancangnya One Belt, One Road (OBOR) ini oleh Tiongok memperlihatkan keinginananya menguasai pasar global. Sudah banyak bantuan-bantuan yang diberikan kepada negara-negara yang di lalui jalur ini untuk dapat bekerja sama degan Tiongkok. Menurut Yanuar Ikbar (2007:191-192) bahwa motif ekonomi merupakan pembenaran yang paling rasional untuk pemberian bantuan, dari luar negeri yang secara mendasar dapat dipahami dari beberapa konsep:
1.      Sumber daya dan kapabilitas keuangan dari luar (untuk pinjaman dan hibah);
2.      Bantuan luar negeri kebanyakan diberikan untuk mempercepat pertumbuhan dan pemerataan di negara-negara yang diberi bantuan;
3.      Bantuan luar negeri tidak hanya berbentuk modal, tetapi juga tenaga ahli dan manajemen dan alih teknologi;
4.      Pengalihan investasi untuk tujuan mendekati pasar, perluasan industrialisasi internasional di luar negari pemberi bantuan dan pengalihan industri senja. Sedangkan terdapat indikator atau faktor yang (Siregar, 2016)
Namun terkadang suatu negara dalam mendapatkan atau memperoleh kepentingan nasionalnya tidak hanya melakukan dengan cara yang benar namun ada beberapa cara yang di lakukan khususnya oleh Tiongkok untuk memperoleh kekuasaan tersebut seperti sekarng ini Tiongkok mulai aktif mengirimkan tenaga kerjanya ke Indonesia dengan alasan untuk membantu indonesia dalam perkembangan negara.
Namun jika dilihat dari sudut pandang realis, kebaikan suatu negara pasti terdapat motif tersembunyi. Dengan mulai aktifnya Tiongkok mengirimkan tenaga kerja profesionalnya adanya pekerja-pekerja itu justru malah merugikan warga negara dalam memperoleh pekerjaan. Selain itu tenaga kerja tersebut di kirim untuk membantu di tempat di mana tiongkok akan membuat jalur sutra maritim sehingga dana yang berputar tidak sepenuhnya ke negara yang dibantu melainkan malah beralih kembali ke Tiongkok alhasil malah Tiongkok lah yang mendapat keuntungan berlipat ganda.
Kita bisa mengambil studi kasus di Indonesia yang merupakan salah satu anggota ASEAN dan negara yang dimana di lalui oleh jalur Sutra Maritim Tiongkok. Mulai tahun 2016 banyak tenaga-tenaga kerja Tiongkok yang di kirim ke indonesia.
Sesuai dengan apa yang di lansir oleh Detik NEWS tanggal 12 maret 2018 yang lalu bahwa jumlah tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia saat ini adalah 126 ribu orang. Jumlah ini meningkat hampir 70% dibanding akhir 2016. Apakah ada peningkatan drastis pada investasi asing? Tidak. Diduga kuat ini akibat lonjakan tenaga kerja dari Cina. Sejak 2015 banyak laporan tentang buruh Cina yang masuk dalam jumlah besar pada sejumlah proyek dengan dana investasi dari Cina. Para pengusaha Cina masuk membawa dana investasi, tapi sekaligus membawa pekerja mereka untuk mengerjakannya (Abdurakhman, 2018).
Namun dalam memanfaatkan situasi rancangan Tiongkok atas OBOR ini presiden Indonesia Bapak Joko Widodo mengambil langkah kreatif dalam menanggapinya. Tiongkok yang akan membuka jalur perdagangan selain jalur darat namun jalur laut juga, Indonesia dengan bangganya menyatakan tentan program Presiden Jokowi yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Munculnya poros maritim tidak lain dilatar belakangi oleh berbagai permasalahan di bidang kelautan. Misalnya menurut Data Badan Pemeriksa Keuangan (2013) memperkirakan potensi pendapatan sektor perikanan laut jika tanpa illegal fishing bisa mencapai Rp. 365triliun per tahun. Namun disebabkan illegal fishing, negara mengalami kerugian sangat besar. Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011), mempunyai temuan berbeda di mana negara hanya mengalami kerugian sekitar Rp. 65 triliun per tahun.Oleh karena itu, bisa dibayangkan ratusan triliun rupiah devisa negara lenyap setiap tahun. Dalam hal ini Indonesia yang menurut Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982, memiliki tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) di mana merupakan jalur pelayaran dan penerbangan internasional belum sepenuhnya bisa dimaksimalkan. Diperkirakan jika dioptimalkan ketiga ALKI tersebut maka Indonesia berpotensimemperoleh keuntungan sebesar 1.500USD atau 45% dari total nilai perdagangan dunia (Maksum, 2015).

Perbandingan banyak tenaga Asing yang ada di Indonesia bisa kita lihat di tabel di bawah:

(Pekerja Asing Jepang di Indonesia Terbesar Kedua, 2017)

Kesimpulan
Paper ini membahas tentang bagaimana rancangan Tiongkok atas One Belt One Road (OBOR) dalam mempengaruhi perekonomian di negara-negara yang di laui jalur itu khususnya wilayah ASEAN. Dalam perkembangannya terdapat hal-hal yang harus kita telaah secara mendalam terhadap maksud dari pembangunan jalur jutra tersebut pasalnya akhir-akhir ini Tiongkok mulai sering untuk memberi bantuan-bantuan kenegara yang di lewati jalur Sutra ini. Melihat dari sudut panang realis yang sangat memikirkan untung rugi, Tindakan Tiongkok yang gencar mencari kerabat dengan cara memberi bantuan ini menimbulkan kecurigaan. Selain itu maraknya mengiriman tenaga kerja profesional Tiongkok ke negara-negara semakin memperkuat kecurigaan tersebut. Terlepas dari kecurigaan itu terdapat negara-negara ASEAN yang memanfatkan dibangunnya OBOR ini seperti Indonesia yang membuat kebijakan luar negrinya yang menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi pusat maritim dunia tentu saja indonesia akan sangat memanfaatkan pembangunan OBOR ini untuk masa depan Indonesia yang lebih cerah.


References



Abdurakhman, H. (2018, Maret 12). Tenaga Kerja Asing, Antara Perlu dan Tidak. Retrieved from Detik News: https://news.detik.com/kolom/d-3911332/tenaga-kerja-asing-antara-perlu-dan-tidak
Jetin, B. (2017, July 13). “One Belt-One Road Initiative” and ASEAN Connectivity: Synergy Issues and Potentialities. Retrieved from china trade research hktdc: http://china-trade-research.hktdc.com/business-news/article/The-Belt-and-Road-Initiative/One-Belt-One-Road-Initiative-and-ASEAN-Connectivity-Synergy-Issues-and-Potentialities/obor/en/1/1X000000/1X0AAQ1T.htm
Kurniawan, A. (2016). One Belt One Road (OBOR): China’s Liberal Security Agenda, 237. Retrieved from https://www.academia.edu/34672953/One_Belt_One_Road_OBOR_Agenda_Keamanan_Liberal_Tiongkok
Maksum, A. (2015). Poros Maritim dan Politik Luar Negeri Jokowi. Andalas Journal of International Studies, 3.
Pekerja Asing Jepang di Indonesia Terbesar Kedua. (2017, January 17). Retrieved from katadata.co.id: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/01/17/2016-pekerja-asing-jepang-di-indonesia-terbesar-kedua
Picciau, S. (2016). The "One Belt One Road" strategy between opportunities & fears: a new stage in EU-China. Retrieved from SSOAR: https://www.ssoar.info/ssoar/bitstream/handle/document/47931/ssoar-indrastraglobal-2016-picciau-The_One_Belt_One_Road.pdf?sequence=1
Siregar, R. R. (2016, February 18). Jurnal HI UMY. Retrieved from Jurnal UMY: http://journal.umy.ac.id/index.php/jhi/article/view/2251
Yeung, B. (2017, May 17). One Belt One Road: A golden opportunity for ASEAN. Retrieved from Think Business: http://thinkbusiness.nus.edu/article/one-belt-one-road-a-golden-opportunity-for-asean/









Comments

Popular Posts